Eriek’s Farewell

Sebenarnya ga suka, kalo harus posting tentang farewell -_-
But, mo gimana lagi, yang namanya hidup semuanya kan diciptakan berpasangan…siang malam, gelap terang, pria wanita, hidup mati , pertemuan perpisahan dll
Ya kalo udah ketemu sama orang, ya harus siap juga berpisah >,<

And now…postingan farewell nya Eriek Rahman Syah Putra a.k.a Geje
Termasuk senior ku di kantor ini…

Karena pertama kali aku masuk di kantor ini, dia masih di Korea, so baru ketemu dia setelah beberapa bulan bekerja disini. Namanya juga anak baru, masih yang malu-malu , lugu dan sopan…jadilah aku memanggilnya “Mas Eriek”, tapi lama-lama gerah manggil kek gitu…jadilah lebih enak manggil dia GEJE, lebih matching sama kelakuannya hehehhe..

Yah waktu berlalu, hampir sekitar 2 tahunan lebih bareng,
Sama2 bergelut dengan hecticnya kerjaan, dengan deadline, dengan fun nya event2 di Software, menikmati indahnya keberasamaan di Software, travelling and have fun bareng-bareng orang-orang di dalamnya. Juga dengan project-project geje yang membuat hidup kita ga flat. Dan pastinya semua itu full of kegejean. Kamu layak di nobatkan jadi King of Geje🙂

Finally, Jumat 13 Mei 2011 kemaren, your last day di kantor ini😦
Sebenarnya masih ga terima…kenapa kamu duluan?harusnya aku duluan… -_

Random Though about Eriek
1. Geje tingkat akut
2. Out of the box (banget) dengan ide2 brilian dan ga masuk akal :p
3. Temen yang baik
4. Rempongan, malesan, telatan, ngantukan, plin-planan and so on….
5. Smart
6. Penulis bebakat *bukuku belom ada cap nya tuhh, katanya mau ngasih cap pantat :p *, Lanjutkan bakatmu

copas dari email farewellnya eriek, pasti email ini akan membuatmu berpikir keras apa mksdnya…
Hufhhh…mentang-mentang penulis, semua di puitiskan…aku pusing bacanya @@ :

Hening ….

Kupejamkan mata sesaat. Perlahan-lahan bisa kudengar detak jantungku berdegup semakin kencang. Apakah ini hanya adrenalin yang membuat darahku meletup-letup ataukah ada sesuatu yang sedang merongrong dadaku? Sungguh, sebenarnya aku tidak bisa bernapas ketika menyadari bahwa inilah saatku pergi dari sini. Tempat yang penuh kenangan di mana bayangan diriku terlihat berkecamuk dalam sudut-sudut serabut neuron otakmu.

Dengan keyakinan yang kuat, kuhembuskan napas panjang-panjang lalu kubuka mataku berangsur-angsur. Ya, masih bisa kulihat dengan jelas sekat-sekat ruangmu yang tertata rapi, masih bisa kulihat satu atau dua buah troli tersungkur di sudut bilikmu, masih bisa kusaksikan canda tawa mereka yang selalu menghidupkanmu dari kesunyian, masih bisa kucermati keseriusan mereka yang terlelap dalam pekerjaaan hanya demi mengejar sebuah deadline, dan masih bisa kurasakan hal ini berulang-ulang. Tapi tiba-tiba hatiku kelu ketika tubuhku mulai memudar tepat di mana aku berdiri saat ini.

Aku berharap tidak ada seorangpun yang sedang memperhatikanku saat itu tetapi tetap saja tak bisa kuhindari. Beberapa dari mereka melihatku menghilang dan segera menggapai tanganku hendak menyuruhku tetap tinggal, dan sisanya hanya menatapku ditelan oleh udara yang tak berbayang. Banyak pertanyaan berkelebat memenuhi tempurung kepala mereka tapi tak urung niatanku untuk pergi dari tempat yang sudah kuyakini dari dulu sebagai tempat perlabuhanku ini. Ya, hanya tempat untuk berlabuh sementara yang pastinya akan kukenang sepanjang waktu, bukan karena dirimu, tapi karena mereka yang telah menghidupkanmu dan menghidupkanku dalam waktu yang bersamaan.

“Kalau memang mereka telah menghidupkanmu, lalu kenapa kamu pergi?” tanyamu yang membuat dadaku seakan-akan tertusuk belati yang sangat tajam.

Aku merasa tidak bisa menjawabnya karena bagaimana pun juga aku harus pergi walaupun sebenarnya aku butuh mereka. Aku bukanlah Nostradamus yang tahu segala hal untuk mendapatkan jawabannya, aku bukanlah Lia Eden yang mengaku mendapat bisikan dari malaikat Jibril hanya untuk melakukan sebuah langkah besar dalam hidupnya, dan aku bukanlah Epimenides yang suka melontarkan kalimat-kalimat paradoksnya.

“Ya, sekaranglah waktunya,” hanya itu yang keluar dari mulutku.

Memang ku sengaja tak meninggalkan mereka sepucuk kesan untuk orang per orang, bukan karena tak ada cerita antara aku dengan mereka, melainkan hal itu adalah hal tersusah yang tidak mampu kulakukan. Bayangkan saja, setiap aku mencoba menuliskan nama mereka satu per satu lalu mencoba menguraikan untaian kisah yang berkesan, rasanya seperti ada debu yang masuk ke mataku dan ada biji yang bersarang di dalam kerongkonganku. Daripada nyawaku melayang hanya karena perasaan itu, akhirnya kuurungkan niatku dan lebih memilih untuk mengguratkan kisah ini untuk mereka, walaupun sebenarnya tanganku masih kerap gemetaran mengetikkan huruf per huruf.

Kepada mereka yang telah menjadi bagian dalam hidupku, tak banyak yang ingin kusampaikan selain berterima kasih karena telah menyempatkan diri menyambutku dalam tempat perlabuhan sementara ini. Terima kasih telah mengajakku mencicipi setiap bongkahan pasang surut yang kalian hidangkan. Dan terima kasih telah mengukir galur-galur kenangan berharga ke dalam memori otakku, akan senantiasa kuunduh sewaktu-waktu bila aku ingin bertemu dengan kalian di ruang imaji.

Aku tak mengharapkan kata perpisahan dari kalian, dan aku pun tak berharap untuk melihat lambaian tangan kalian menukik ke udara menandakan kalian siap mengucapkan selamat tinggal dan mengantarkanku ke gerbang yang telah terbuka lebar. Yang hanya bisa kukatakan saat ini adalah ….

“Sampai jumpa dan sampai bertemu kembali!”

*baru kali ini email farewell dalam bentuk cerpen >,<*

Sedikit kilas balik , tentang hal-hal yang bisa kita kenang, hal-hal “ga penting” yang bisa membuat kita senyum-senyum sendiri kalo mengingatnya:
1. Our first project, buat weddingnya mbak titi

*jaman kita masih gosong-gosongnya*
2. Project Chitato: Life is never flat *Walopun ga menang kontesnya, at least masih masuk juara harapan dan dapet Chitato sekerdus :)*


3. Project Unyu: Project tentang Software team dengan segala kata-kata “manis” nya

And this is special for you…
Buat mengenang memory yang udah di lewati disini, buat tiap moment yang memberi kesan, buat tiap kebersamaan yang membuat hidup never flat, buat setiap tawa dan senyuman. Just simple thing, but terharu juga kalo ini bisa membuat matamu merah dan basah -_- *aku jd ikut sedih, tapi seneng juga, cos misiku berhasil :p*

This is not the last…,
Ini cuma sekedar ungkapan perpisahan untukmu keluar dari kantor ini aja,
Masih bisa maen2 bareng rame-rame lagi, aku juga masih berhutang 2 kopi capucinno+ 1 kotak-kotak, yah karena nanti di neraka ga ada atm, bagusnya segera dilunasi😛

Good luck di tempat yang baru yah, jangan lupa undang2 openingnya🙂

remember us …as we will always remember you🙂 *copas kata-kata mbak olip neh*

4 thoughts on “Eriek’s Farewell

    • aku sekarang belom mellow…belom terasa farewellnya…tar pas kamu berangkat ke negeri om merli…baru kerasanya palingan disitu😦

  1. hadeeeeuh, aku ga suka kata farewell tereeeeeeeeeee T_T
    lagian lho aku ga jauh2 juga, palingan 1,5 jam jg udah nyampe,
    ga ada bedanya sama perjalanan cikarang – jkt hahahaha …

    • aku juga ga suka farewell -_-
      ke jakartanya 2 jam
      ngurus macem2nya 2 jam
      perjalanannya 1,5 jam
      total 5,5 jam😀

      counting down gihhhh……hari ini H-13 yah :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s