The Calling

Entah, aku sendiri ga bisa menjelaskan definisi dari kata panggilan hidup (The Calling), yang ku tahu panggilah hidup setiap orang adalah for God to be glory, but which way we have to choose to realease it?

Tiap orang punya panggilannya masing2, ada yang jadi guru, jadi dokter, jadi perawat, jadi pendeta, jadi full timer and so on

Tiap orang punya panggilan hidupnya masing-masing dimana dia akan mengabdi dan konsen. And sometimes we couldnt predict where we belong to follow our calling. Demikian juga, awal perintisan Rumah Sakit Bethesda ini, siap yang mampu menduga akan ada rumah sakit di tengah hutan, jauh dari peradaban?

Dan, coba pikirkan, sapa yang dengan rela hati masuk ke hutan, harus berhadapan dengan suku pedalaman yang masih kental dengan unsur-unusr mistis, tidak ada fasilitas, tidak ada jaminan keselamatan bisa keluar hidup-hidup dari hutan.

BUT….

Ada keluarga di belahan dunia sana yang panggilan hidupnya adalah untuk Borneo, pulau yang mereka sendiri tidak tahu itu berada dimana? Bagaimana keadaannya? Seperti apa orang-orangnya?

Yeah,keluarga missionaris dari Amerika. Seharusnya mereka akan ditugaskan ke Afrika, but karena disana sedang terjadi pemberontakan dan keadaan sedang tidak aman, so mereka dialihkan ke Borneo , Indonesia.

Pada Februari  1964 akhirnya mendapat ijin untuk praktek dan tinggal di Indonesia,setelah sebelumnya ditolak permohonannya, karena Amerika mendapat citra yang buruk waktu itu karena politik Indonesia berkiblat ke China dan Rusia.

“Trima kasih , Tuhan….Jalan mulai terbuka…”, bisik istri saya dalam doa dengan tangis dan suara yang tertahan sukacita yang penuh gelora. Kami berdua bertatapan lama, sebelum air mata bahagia kami tumpah. Keajaiban selalau seperti air yang mengalir mencari jalannya sendiri. Kita manusia terkadang merancang dengan amat congkak aliran ait itu. Dan kelak kita sadar, bahwa kita tak cukup mampu melakukan itu. Keajaiban adalah tangan Tuhan yang mampu bekerja sendiri tanpa campur tangan kita yang serba terbatas *dikutip dari buku Dalam Mujizat Tuhan page 15*

Memulai dengan mempelajari bahasa Indonesia beberapa lama, kemudian masuk ke Kalimantan, berhadapan dengan pemerintah. Masuk ke hutan dan suku pedalaman yang masih terikat  perdukunan yg sudah mengakar, dan tidak mengenal praktek kesehatan. Dengan standart hidup baik ekonomi maupun kesehatan yang rendah, angka kematian ibu melahirkan dan bayinya yang dilahirkan cukup tinggi, karena penanganan yang tidak tepat. Dan kepercayaan terhadap roh2 nenek moyang dan benda-benda yang sangat mengakar dalam kehidupan mereka. Penolakan terhadap budaya baru dan juga praktek kesehatan. Dan tetap tinggal ketika ada kerusuhan antar suku dayak-madura, untuk membantu mereka yang terluka walopun memungkinkan untuk kehilangan nyawanya kapan saja, pemulangan ke negeri asal oleh pemerintah, sulitnya ijin praktek di Indonesia. Itu sedikit tentang perjuangan mereka…dan masih panjang perjuangan itu, hingga sekarang berdirilah RSUB Bethesda di Serukam, di daerah yang jauh dari peradaban.*kalo ada yang mau baca kisah lengkapnya, aku punya bukunya judulnya Dalam Mujizat Tuhan, buku ini dibuat untuk memperingati 45 tahun pelayanan keluarga misionaris ini, ga dijual di toko buku*

Yups….sebuah pengorbanan yg tidak sedikit dan tidak singkat, namun dijalani dengan sepenuh hati. Itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah panggilan. Dan suatu keberuntungan buat kami, ketika kami kesana kemaren kami masih bisa bertemu dengan mereka yang lebih akrab kami panggil opa dan oma. *Thanx God buat kesempatan bertemu orang-orang luar biasa seperti mereka*


Sekarang opa sama oma udah berusia 70 something lah, but mereka masih mengabdikan hidup buat borneo, khususnya serukam dan daerah pedalaman di sekitarnya.

[OOT] Oma sama opa, walopun udah tua romantis banget deh.jadi kejadiannya pas kita lagi sarapan di restoran.

opa: Tadi oma pesan apa?

oma: Sepertinya oma tadi pesan roti bakar keju dan susu. Tapi kenapa tidak ada susunya, cuma keju saja

opa: oma tidak perlu pakai susu, oma sudah manis

oma: *senyum malu* argh…opa ini bisa saja *sambil nyubit opa ^^*

*aih mesra sekali oma sama opa ini :D*



2 thoughts on “The Calling

  1. A: minta gula dooong
    B: ga usah pake gula lah, minumnya sambil ngeliatin aku ajaah
    .. kalo yg di atas itu termasuk romantis ga, tere?😀
    *ngrusak blog orang :p*

    eniweey *benerankomen mode: on* emang keren orang-orang kyk mereka itu, bisa mengabadikan hidupnya demi sesuatu yg kadang orang dikasi duit banyak aja belom tentu mau. huhuhu T.T
    nice share, tere *benerankomen mode: off* tapi manaaaaaa oleh-olehnyaaaaaaaaaaaa

    • wakakkakak…..ga usah nyindir gitu dunkkkk….
      sebenarnya itu romantis….tapi tergantung juga, ngomongnya sama sapa :p
      kalo based on true story yang terjadi beberapa jam yang lalu, itu ga ada romantis2nya…. *jadi merinding :d*

      Itu dia mbak olip…jauh2 dari amerika, kok mau2nya ke pedealaman sana yg ga ada apa2nya…tapi yg namanya panggilan mau bilang apalagi?

      Udah lewattt…udah basiiii😀 *padahal ga bawa hihihhiih*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s